Kamis, 03 Januari 2013

Posted by Renny Rambang On Kamis, Januari 03, 2013



A.      Hubungan pendidikan komparatif  dengan Metodologi
 Pendidikan komparatif sebagai disiplin ilmu terus menunjukan perkembangan. Sejalan dengan itu pula, pendidikan komparatif banyak diminati orang dari berbagai aspek kependidikan, dengan tujuan untuk mempelajari sistem pendidikan di tempat lain, agar hal positif dari sistem pendidikan di tempat lain dapat diadopsi dan diterapkan dalam tempatnya sendiri.
Kalau kita pertanyakan adakah hubungan antara pendidikan komparatif dengan metodologi, tentu ada keterkaitan diantara keduanya. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa tujuan pelaksanaan pendidikan komparatif yakni mempelajari sistem pendidikan di tempat lain itu melewati proses pengamatan yang membutuhkan metode-metode yang cocok untuk digunakan. Diperkuat lagi dengan pernyataan bahwa pendidikan komparatif diminati banyak orang dari ahli dalam bidangnya pendidik, sampai pejabat-pejabat dalam perencanaan dan kerjasama regional dan internasional dalam bidang pendidikan. Atas dasar kenyataan ini, maka pendidikan perbandingan membutuhkan metode-metode yang bervariasi sesuai dengan permasalahan yang dihadapi.

Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa metode pendidikan perbandingan adalah cara apa yang diterapkan oleh disiplin pendidikan perbandingan dalam menyusun dan mengkaji objek atau sasaran yang menjadi bidang garapannya.Metodologi tidak lebih dari pengkajian terhadap aturan langkah-langkah dalam melaksanakan metode ilmiah.

B.       Metode-Metode Studi dalam Komparasi Pendidikan
Sebagaimana ilmu-ilmu lain, ilmu pendidikan komparatif memiliki banyak kemungkinan metodologi yang dapat digunakan untuk keperluan studi ini. Menurut Debold Van Dalen dalam “Understanding Educational Research” (Arif Rahman, 2010:98) menyebutkan metode ilmiah yang lazim digunakan dalam studi-studi pendidikan komparatif adalah : (1) historis,(2) deskriptif, (3) eksperimen, (4) filosofis.
1.        Metode Historis
Metode historis ini digunakan untuk menemukan fakta-fakta pendidikan yang sudah lampau dalam rangka mencari keterkaitan dengan kondisi pendidikan sekarang. Metodologi historis dalam pendidikan adalah suatu wahana sitematis, serta objektif, menilai, dan menafsirkan bukti-bukti tentang kejadian-kejadian pendidikan masa lampau untuk dapat dimengerti pada masa sekarang (Imam Barnadib, 1988:133). Seperti pendapat yang dikemukakan I.L. Kandel bahwa “pendidikan perbandingan itu mempelajari pendidikan waktu sekarang dengan mengingat latar belakang historisnya”(Arif Rahman, 2010:99).
Bagi pendidikan perbandingan metode Historis dapat digunakan untuk memenuhi sebagian dari kebutuhannya, yaitu mengenai latar belakang historisnya atau bila yang diperbandingkan itu mengenai sejarah pendidikan negeri-negeri tertentu (Chalidjah Hasan,1994:35).
Contoh penerapan metode historis ini misalnya dapat digunakan untuk mengungkapkan fenomena pendidikan Indonesia pada era kolonial terutama yang dilakukan oleh tokoh-tokoh pergerakan dalam menanamkan nasionalisme Indonesia. Kemudian dari keterangan tersebut dijadikan acuan dalam membangun pendidikan Indonesia sekarang maupun masa yang akan datang agar menjadi lebih baik lagi.
Jalan yang ditempuh oleh metode historis ini adalah:
a.       Memilih problem yang akan diteliti
b.      Mengumpulkan sumber-sumber bahan (sources materials)
c.        Penilaian dan pengujian sumber-sumber data yang terkumpul, kemudian dilanjutkan penyajian
d.      Menentukan hipotesis untuk menjelaskan hakekat dari fenomena-fenomena pendidikan yang sudah lampau
e.       Melakukan penafsiran atas bahan-bahan yang telah terkumpul secara mendalam atau juga penyusunan bahan-bahan
f.       Menyimpulkan dan membuat laporan mengenai temuan-temuannya (Arif Rahman, 2010:99).
Sumber bahan yang paling dekat dalam penelitian dengan metode historis adalah dokemen-dokumen, antara lain seperti :
a.       Peninggalan material :fosil, piramida, senjata, perkakas rumah tangga, perhiasan, bangunan, benda-benda budaya
b.      Peninggalan tertulis : papyrus, daun (lontar ) bertulis, kronik, relief, candi, catatan khusus, buku harian, arsip negara, dll
c.        Peninggalan tak tertulis : adat istiadat, bahasa, dongeng, dan kepercayaan (Arif Rahman, 2010:99).
Namun, terdapat  kelemahan dan kelebihan dari penerapan metode historis. Kelemahannya pemakaian metode ini bergantung pada peristiwa masa lampau, dimana sumber-sumber yang dibutuhkan belum pasti masih ada atau tidak keberadaannya. Sedangkan kelebihannya kita dapat mengetahui perkembangan pendidikan dari masa lampau hingga sekarang dengan melibatkan beberapa variabel yang dilihat secara holistik.

2.        Metode Deskriptif
Metode deskriptif dilakukan dengan cara menggambarkan dan menguraikan apa adanya yang terjadi pada objek yang diteliti secara mendetail. Jadi, tujuan utama metodologi deskriptif adalah menerangkan apa adanya (Imam Barnadib, 1988:131). Metode penelitian jenis dekriptif ini mencakup beberapa metode, antara lain (Arif Rahman, 2010:100): (1) studi kasus; (2) survey, (3) studi perkembangan, (4) studi tindak lanjut, (5) analisis dokumen, (6) studi korelasi, dan (7) studi aliran atau trend.
Metode deskriptif dalam pendidikan komparatif bertujuan untuk menggambarkan suatu fakta-fakta pendidikan baik dalam satu negara maupun antar negara. Bisa menyangkut sistem pendidikan secara umum maupun menyangkut bagian per bagian dalam sistem pendidikan, misalnya: kurikulumnya, kondisi siswanya, tenaga kependidikannya, pendanaanya, dll (Arif Rahman, 2010:100).
3.        Metode Eksperimen
Metode eksperimen merupakan salah satu metode dalam penelitian ilmiah yang dilakukan dengan cara menspesifikasi obyek yang diteliti melalui tindakan  mengeliminasi variabel-variabel yang ada dari variabel lain. Dengan kata lain metode eksperimen  dilakukan dengan cara mendudukan obyek penelitian yang spesifik dalam suatu totalitas yang terkontrol (Arif Rahman, 2010:100).
Tujuan utama metodologi eksperimen adalah untuk menentukan apa yang dapat terjadi dari percobaan yang telah dilakukan. Misalnya, pengaruh peningkatan pendanaan terhadap peningkatan mutu sekolah, pengaruh penggunaan metode tugas terhadap peningkatan prestasi belajar,dll.
Pada metode eksperimen ini ada kelemahannya dimana kejadian atau peristiwa yang diteliti dirancang dan direkayasa oleh peneliti sendiri, tidak berdasarkan kenyataan. Sedangkan kelebihan yang ada dalam metode ini adalah Menambah keaktifan untuk berbuat dan memecahkan sendiri sebuah permasalahan.

4.        Metode Filisofis
Berfikir filosofis adalah tindakan berfikir yang mendasar, sistematis, dan universal. Dalam hal ini metode filosofis berusaha menemukan prinsip-prinsip atau konsep-konsep yang mendasar tentang sistem pendidikan  disuatu negara atau beberapa negara. Dengan metode filosofis ini, akan dapat ditemukan sekaligus dipahami aneka sistem dan praktek pendidikan secara mendalam dan menyeluruh beserta alasan dan pertimbangan rasionalnya (Arif Rahman, 2010:100).
Pada hakekatnya metode filosofis terdiri dari dua jenis analisa yaitu analisa linguistik dan analisa konsep. Analisa linguistik yang dapat disebut sebagai analisa bahasa, berusaha untuk menemukan makna sesunggunya dari sesuatu. Misalnya, tentang mencari perbandingan antara filsafat pendidikan dan filsafat pendidikan guru. Kemudian terdapat titik terang bahwa filsafat pendidikan guru merupakan bagian dari filsafat pendidikan (Imam Barnadib, 1988:149). Analisa Konsep atau analisa aliran digunakan  untuk mempelajari kecepatan dan arah perubahan-perubahan dan menggunakan kesemuanya ini untuk memperkirakan atau meramalkan keadaan yang akan datang. Misalnya, pendidikan selaluberkepentingan dengan manusia. Maka dari hal ikhwal yang mengenai kependudukan akan memiliki permasalahan kuantitatif dalam bidang pendidikan (Imam Barnadib, 1988:159).
5.        Metode Ex Post Facto
Metode Ex Post Facto dikemukan oleh Donald Ary dan kawan-kawan dalam “Introduction to Research in Education” (Arif Rahman, 2010:100). Metode ilmiah yang berjenis ex post facto dilakukan dengan cara melihat obyek spesifik yang diteliti yang sudah dieliminasi dari variabel atau faktor lain tetapi tidak melalui percobaan-percobaan yang dilakukan peneliti, akan tetapi melalui kejadian-kejadian yang sudah terjadi di masyarakat.
Jenis penelitian ex post facto ini sebenarnya sama dengan jenis penelitian eksperimental, perbedaanya ex post factoobjek kejadiannya sudah terjadi. Sedangkan pada eksperimental kejadiannya dirancang dan direkayasa oleh peneliti sendiri (Arif Rahman, 2010:101).Kelebihan yang dimiliki metode ini adalah Peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji hubungan sebab akibat dari data-data yang tersedia. Dan kelemahannya penelitian tersebut tidak mempunyai kontrol terhadap variabel bebas. Peneliti hanya berpegang pada penampilan variabel sebagaimana adanya, tanpa kesempatan mengatur kondisi ataupun mengadakan manipulasi terhadap beberapa variabel.
Menurut Imam Barnadib yang mengutip pendapat George ZF.Bereday, ada dua metode yang digunakan dalam studi perbandingan, yaitu (Arif Rahman,2010:102) :
6.        Metode Area
Metode Area dapat dilakukan pada satu desa (village) atau propinsi (province)tertentu bahkan dapat lebih luas lagi yaitu negara. Studi area dapat dilakukan dengan cara : (a) studi latar belakang negara, (b) deskripsi sistem pendidikan pada masing-masing negara tersebut, (c) menarik interprestasi.



7.        Metode Komparasi
Metode komparasi, yaitu metode yang dilakukan dengan area wilayahyang lebih sempit misalnya hanya dua desa atau propinsi atau kawasanatau negara tetapi dengan tekanan pada studi yang mendalam.

C.       Pengembangan Metode dalam Melakukan Komparasi Pendidikan
Keragaman metode yang dipakai dalam melakukan studi komparasi pendidikan telah mendorong beberapa ahli untuk mengembangkan satu metode yang secara relatif lebih spesifik dapat digunakan lebih efektif untuk melakukan studi komparasi pendidikan. Beberapa metode sebaimanatelah disebutkan memiliki kelebihan yang beragam sekaligus kelemahannya. Untuk itu George ZF.Bereday sebagai profesor di bidang Pendidikan Komparatif dari Colombia University Amerika Serikat mengembangkan satu metode disebut dengan metode Induktif komparasi, yang memiliki langkah-langkah prosedural meliputi :
1.    Penggalian data
Penggalian data yang baik adalah dengan cara datang ke lokasi penelitian lalu tinggal beberapa waktu di lokasi tersebut agar bisa memperoleh lebih lengkap data yang dicari.
2.    Deskripsi data
Pendeskripsian data dilakukan dengan cara menyajikan semua data yang diperoleh menurut kelompok-kelompok data berdasarkan klasifikasi yang dibuat dalam bentuk tabel,teks atau uraian, serta peta.
3.    Interprestasi
Setelah data-data disajikan menurut pengelompokannya maka langkah selanjutnya yakni interprestasi atau penafsiran atas data yang telah tersaji. Upaya penafsiran data ini di lakukan dengan cara melakukan analisis konteks, baik analisis aspek historis,politik, ekonomi, maupun aspek sosial kemudian dikaitkan (Arif Rahman, 2010:105).
4.    Juxtaposisi atau komparasi awal
Pada tahap ini dilakukan penyusunan kerangka kerja perbandingan secara umum dan penentuan dimensi-dimensi komparasi yaitu menentukan hal-hal yang akan dikomparasikan.
5.    Perumusan hipotesis
Kegiatan ini merupakan cara untuk menemukan hasil komparasi yang masih bersifat sementara setelah peneliti melakukan kegiatan juxtaposisi. Perumusan hipotesis komparasi berisi pernyataan-pernyataan perbandingan pendidikan antara dua daerah atau negara yang diperbandingkan, baik berupa persamaan maupun berupa perbedaan.
6.    Komparasi Final
Kegiatan komparasi final dilakukan dengan cara menganalisis secara cermat dan mendalam perbandingan pendidikan antara dua daerah atau negara dalam rangka mencari dan menemukan dua hal, yaitu : persamaan dan pertidaksamaan. Penemuan persamaan akan melahirkan generalisasi dan penemuan ketidaksamaan akan memunculkan tipologi.
7.    Kesimpulan
Kesimpulan merupakan akhir semua proses penelitian induktif komparasi yang menghasilkan kesimpulan berupa generalisasi dan tipologi yang diperoleh.








BAB III
PENUTUP
Penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa metode-metode dalam pendidikan komparatif memiliki berbagai variasi. Hal ini disebabkan karena pendidikan komparatif  tidak hanya berkembang pada satu ilmu kependidikan saja, tetapi juga mencakup beberapa aspek kependidikan yang lainnya. Terdapat delapan metode yang lazim digunakan dalam studi penelitian pendidikan perbandingan, yang mana delapan metode tersebut memiliki ruang lingkup pemecahan masalah yang berbeda-beda. Penggunaan masing-masing metodenya pun sesuai dengan permasalahan yang akan diteliti. 
Delapan metode tersebut dikemukakan oleh ahli-ahli yang berbeda. Metode Historis, deskriptif, eksperimen dan filosofis dikemukakan oleh Debold Van Dalen. Metode Ex postfacto dikemukakan oleh Donald Ary, sedangkan metode Area dan Komparasi dicetuskan oleh Imam Barnadib yang mengutip pendapat dari George ZF. Bereday. George ZF.Bereday sendiri mengembangkan keragaman metode-metode tersebut yang menghasilkan metode induktif komparatif.

 

 DAFTAR PUSTAKA
Arif Rahman.2010. Pendidikan Komparatif. Yogyakarta: Laksbang Grafika.
Chalidjah Hasan.1994. Kajian Pendidikan Perbandingan. Surabaya: Al-Ikhlas.
Imam Barnadib. 1988. Pendidikan Perbandingan Buku 1 Dasar-Dasar. Yogyakarta: Andi Offset Yogyakarta.
Imam Barnadib. 1986. Pendidikan Perbandingan Buku Dua. Yogyakarta: Andi Offset Yogyakarta.
http://blog.uin-malang.ac.id/muttaqin/2010/11/28/ diakses pada hari Minggu 18 Oktober 2011


0 komentar:

Poskan Komentar