Kamis, 03 Januari 2013

Posted by Renny Rambang On Kamis, Januari 03, 2013



A.             Pembelajaran Holistik
Istilah holistik mengandung makna menyeluruh atau utuh. Pendekatan holistik memandang manusia secara utuh, dalam arti manusia dengan unsur kognitif, afeksi dan perilakunya. Manusia juga tidak bisa berdiri sendiri, namun terkait erat dengan lingkungannya. Manusia tidak bisa terlepas dari manusia lain, demikian pula dengan lingkungan fisik atau alam sekitarnya. Manusia juga tergantung kepada Tuhan yang Maha Kuasa selaku pencipta dan penentu hidupnya(Sawang:2011).
Menurut pusat penelitian dan pelayanan pendidikan Universitas Sanata Darma (2009) dalam artikel onlinya bahwasanya, pembelajaran holistik (holistic learning) adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada pemahaman informasi dan mengkaitkannya dengan topik-topik lain sehingga terbangun kerangka pengetahuan. Dalam pembelajaran holistik, diterapkan prinsip bahwa siswa akan belajar lebih efektif jika semua aspek pribadinya (pikiran, tubuh dan jiwa) dilibatkan dalam pengalaman siswa.

Akhmad Sudrajat(2008) menuliskan dalam artike onlinya bahwasanya 2008) menuliskan dalam artike onlinya bahwasanya, tujuan pendidikan holistik adalah membantu mengembangkan potensi individu dalam suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan dan menggairahkan, demoktaris dan humanis melalui pengalaman dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Melalui pendidikan holistik, peserta didik diharapkan dapat menjadi dirinya sendiri (learning to be). Dalam arti dapat memperoleh kebebasan psikologis, mengambil keputusan yang baik, belajar melalui cara yang sesuai dengan dirinya, memperoleh kecakapan sosial, serta dapat mengembangkan karakter dan emosionalnya (Basil Bernstein).
 
B.                 Ciri-Ciri Pembelajaran Holistic
Luluk Yunan Ruhendi (2004:187) Paradigma holistik menekankan proses pendidikan dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Tujuan pendidikan holistik mengintrodusir terbentuknya manusia seutuhnya dan masyarakat seutuhnya.
2.      Materi  pendidikan holistik mengandung kesatuan pendidikan jasmani-rohani, mengasah kecerdasan intelektual-spiritual (emosional)- ketrampilan, kesatuan materi pendidikan teoritis-praktis, kesatuan materi pendidikan pribadi-sosial-ketuhanan
3.      Proses pendidikan holistik mengutamakan kesatuan kepentingan anak didik-masyarakat.
4.      Evaluasi pendidikan holistik mementingkan tercapainya perkembangan anak didik dalam bidang penguasaan ilmu-sikap-tingkahlaku-ketrampilan.



C.                Metode dan Teknik Pembelajaran Holistic
Pembelajaran holistic dapat dilaksanakan dengan mengunakan berbagai macam metode dan teknik. Adapun metode dan teknik pembelajran holistic menutur penelitian dan pelayanan pendidikan Universitas Sanata Darma (2009) yaitu:
1.      Metode Pembelajaran Holistik
Metode yang digunakan dalam pembelajaran holistic ada 2 metode yaitu:
a.       Belajar melalui keseluruhan bagian otak.
Bahan palajaran dipelajari dengan melibatkan sebanyak mungkin indera; juga melibatkan berbagai tingkatan keterlibatan, yaitu: indera, emosional, dan intelektual. Sehingga aspek kognitif , afektif,dan psikomotor dapat berkembang secra baik dan berkembang sesuai dengan tingkatan pada fase pertmbuhan manusia.
b.      Belajar melalui kecerdasan majemuk (multiple intelligences)
Siswa mempelajari materi pelajaran dengan menggunakan jenis kecerdasan yang paling menonjol dalam dirnya. Kecerdasan yang digunakan sesuia dengan karakteristik pembelajaran masing masing. Apakah itu bertipe audio, visual atau pin audio visual serta tipe belajar yang lain.

2.      Taknik Pembelajaran Holistik
Ada beberapa teknik pembelajaran holistic yaitu antara lain:
a.       Mengajukan pertanyaan
Siswa menanyakan beberapa terkait beberapa hal  seperti:
(1) Apa yang sedang dipelajari?
(2) Apa hubungannya dengan topik-topik lain dalam bab yang sama?
(3) Apa hubungannya dengan topik-topik lain dalam mata pelajaran yang sama?
(4) Adakah hubungannya dengan topik-topik dalam mata pelajaran lain?
(5) Adakah hubungannya dengan sesuatu dalam kehidupan sehari-hari?
b.      Memvisualkan informasi
Guru mengajak siswa untuk menyajikan informasi dalam bentuk gambar, diagram, atau sketsa. Objek atau situasi yang terkait dengan informasi disajikan dalam gambar; sedangkan hubungan informasi itu dengan topik-topik lain dinyatakan dengan diagram. Gambar atau diagram tidak harus indah atau tepat, yang penting bisa mewakili apa yang dibayangkan oleh siswa. Jadi gambar atau diagram dapat berupa sketsa atau coretan kasar. Setelah siswa memvisualkan informasi, mereka dapat diminta menerangkan maksud gambar, diagram, atau sketsa yang dibuatnya
c.       Merasakan informasi
Jika informasi tidak dapat atau sukar divisualkan, siswa dapat menangkapnya dengan menggunakan indera lainnya. Misalnya dengan meraba, mengecap, membau, mendengar, atau memperagakan

            Pendidikan holistik memperhatikan kebutuhan dan potensi yang dimiliki peserta didik, baik dalam aspek intelektual, emosional, emosional, fisik, artistik, kreatif, dan spritual. Sehingga dalam mengembangan pembelajaran holistic harus memperhatikan beberapa hal agar supaya pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Menutut Akhmad Sudrajat(2008) hal yang perlu di pertimbangkan yaitu:
1.      Menggunakan pendekatan pembelajaran transformative
2.      Prosedur pembelajaran yang fleksibel
3.      Pemecahan masalah melalui lintas disiplin ilmu
4.      Pembelajaran yang bermakna
5.      Pembelajaran melibatkan komunitas di mana individu berada


D.                Konsep Dasar yang Medasari Pendekatan Holistic
Scott H Young (2005),  Prinsip holistik yang mendasari adalah bahwa organisme kompleks fungsi yang paling efektif ketika semua bagian komponen itu sendiri berfungsi dan co-operasi secara efektif. Dan ide ini berhubungan sangat erat dengan konsep sinergi, dengan seluruh yang lebih besar daripada jumlah bagian-bagiannya. Dalam hal pendidikan arus utama pendekatan 'manusia yang utuh' untuk belajar adalah jauh lebih mungkin untuk diamati dalam pembibitan sensorik-kaya atau ruang sekolah aktivitas utama daripada di teater kecerdasan-didominasi kuliah universitas.
 Secara maknawi holistik adalah pemikiran secara menyeluruh dan berusaha menyatukan beraneka lapisan kaidah serta pengalaman yang lebih dari sekedar mengartikan manusia secara sempit. Artinya, setiap anak sebenarnya memiliki sesuatu yang lebih daripada yang di ketahuinya. Setiap kecerdasan dan kemampuan seorang jauh lebih kompleks daripada nilai hasil tesnya
Adapun yang dianggap sebagai pendukung pembelajaran holistik adalah tokoh humanistik dari Swiss Johan Pestalozzi, Thoreau, Emerson, maria Montessori dan Rudolf Steiner. Semua tokoh tersebut menjelaskan bahwa pendidikan harus mencakup penanaman moral, emosional, fisik, psikologis, agama serta dimensi perkembangan intelektual anak secara utuh. Lebih lanjut mereka mengatakan bahwa sudah bukan waktunya lagi  pendidikan itu terkotak-kotak sepenggal-sepenggal (bukan waktunya lagi pendidikan terfokus pada salah satu ranah, yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik) dalam membentuk peserta didiknya. Mereka harus diberi pendidikan secara holistik dan ideal sebagai bekal hidupnya sehingga nantinya mereka menjadi manusia yang berkeunggulan hidup dan akhirnya mamiliki kemandirian hidup

E.                 Aplikasi Pendekatan Holistik dalam Pendidikan Anak
Pendekatan dalam proses pelaksanaan pendidikan yang mampu melihat anak secara keseluruhan adalah Pendekatan Holistik. Pendekatan Holistik dikemas bukan dalam bentuk yang kaku melainkan melalui hubungan langsung antara anak didik dengan lingkungannya. Pendekatan Holistik  tidak melihat manusia dari aktivitasnya yang terpisah pada bagian-bagian tertentu, namun merupakan mahluk yang bersifat  utuh dan tingkah lakunya tidak dapat dijelaskan  berdasarkan aktivitas bagian-bagiannya. Tidak hanya  melalui potensi intelektualnya saja, namun juga dari potensi spiritual dan emosionalnya
Proses pelaksanaan pendekatan Holistik dalam pendidikan akan mengajak anak berbagi pengalaman kehidupan nyata, mengalami peristiwa-peristiwa langsung yang diperoleh dari pengetahuan kehidupan. Dengan demikian pendidik diharapkan dapat menyalakan/menghidupkan kecintaan anak akan pembelajaran. Pendidik juga mendorong anak untuk melakukan refleksi, diskusi daripada mengingat secara pasif tentang fakta-fakta. Hal ini jauh lebih bermanfaat dibanding keterampilan pernecahan masalah yang bersifat abstrak.
Komunitas pembelajaran yang diciptakan pada proses pendidikan Holistik harus dapat merangsang pertumbuhan kreativitas pribadi, dan keingintahuan dengan cara berhubungan dengan dunia. Dengan demikian anak didik dapat menjadi pribadi-pribadi yang penuh rasa ingin tahu yang dapat belajar apapun yang mereka butuh ketahui dalam setiap konteks baru,
Model pendidikan holistik ini melahirkan Kurikulum Holistik yang memiliki ciri-ciri:
1.      Spiritualitas adalah jantung dari setiap proses dan praktek pembelajaran
2.      Pembelajaran diarahkan agar siswa menyadari akan keunikan dirinya dengan segala potensinya. Mereka harus diajak untuk berhubungan dengan dirinya yang paling dalarn (inner self, sehingga memahami eksistensi, otoritas, tapi sekaligus bergantung sepenuhnya kepada pencipta Nya).
3.      Pembelajaran tidak hanya mengembangkan cara berpikir analitis/linier tapi juga intuitif.
4.      Pembelajaran berkewajiban menumbuh kembangkan potensi kecerdasan ganda (multiple intelligences).
5.      Menyadarkan anak akan keterkaitannya dengan komunitas sekitarnya
6.      Mengajak anak menyadari hubungannya dengan bumi dan ciptaan Allah selain manusia seperti hewan, tumbuhan, dan benda  (air, udara, tanah) sehingga mereka memiliki kesadaran ekologis.
7.      Kurikulumnya memperhatikan hubungan antara berbagai pokok bahasan dalam tingkatan transdisipliner, sehingga hal itu akan lebih memberi makna kepada siswa.
8.      Menghantarkan anak untuk menyeimbangkan antara belajar individual dengan kelompok (kooperatif, kolaboratif, antara isi dengan proses, antara pengetahuan dengan imajinasi, antara rasional dengan intuisi, antara kuantitatif dengan kualitatif
9.      Pembelajaran yang tumbuh, menemukan, dan memperluas cakrawala
10.  Pembelajaran yang merupakan  sebuah proses kreatif dan artistic
Diambil dari artikel online Djauharah Bawazir 2008.

Artikel Online menyebutkan aplikasi pendekatan holistik menurut Woofolk, A (1993) dalam pembelajaran di sekolah adalah sebagai berikut :
1.      Wawasan pengetahuan yang mendalam ( insight ) yaitu bahwa wawasan memegang peranan penting dalam perilaku.
2.      Pembelajaran yang bermakna ( meaning ful learning ) yaitu kebermaknaan unsur – unsur yang terkait dalam suatu objek atau peristiwa akan menunjanng pembentukan insight dalam proses pembelajaran
3.      Perilaku bertujuan ( purposive behavior ) yaitu bahwa hakikatnya perilaku itu terarah pada suatu tujuan
4.      Prinsip ruang hidup ( life space ) menyatakan bahwa perilaku individu mempunyai keterkaitan  dengan lingkungan atau medan dimana ia berada. Prinsip ini mengaplikasikan adanya padanan dan akitan antara proses pembelajaran dengan tuntutan dan kebutuhan lingkungan
5.      Transfer dalam pembelajaran yaitu pemindahan pola – pola perilaku dari suatu situasi pembelajaran tertentu kepada situaasi lain. Transfer akan terjadi apabila anak menangkap prinsip – prinsip pokok dari suatu masalah dan memnemukan generalisasi kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain




BAB III
PENUTUP

Pembelajaran holistik (holistic learning) adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada pemahaman informasi dan mengkaitkannya dengan topik-topik lain sehingga terbangun kerangka pengetahuan . Pembelajaran yang terbangun meliputi kognitif,  afektif dan psikomotor  yang kesemua komponen tersebut merupakan keutuhan dari manusia. Sehingg prinsip yang sesuai dengan pendekatan holistic ini adalah pembelajaran Humanistik yang lebih tepatnya memanusiakan manusia.
Pendekatan holistic sendiri memiliki berbagai metode dan teknik dalam penerapanya . metode tersebut adalah Belajar melalui keseluruhan bagian otak dan Belajar melalui kecerdasan majemuk (multiple intelligences). Sedangkan teknik yang digunaan dalam pendekat holistic adalah Mengajukan pertanyaan, Memvisualkan informasi dan Merasakan informasi. Sehingga Pendekatan Holistik  tidak melihat manusia dari aktivitasnya yang terpisah pada bagian-bagian tertentu, namun merupakan mahluk yang bersifat  utuh dan tingkah lakunya tidak dapat dijelaskan  berdasarkan aktivitas bagian-bagiannya. Tidak hanya  melalui potensi intelektualnya saja, namun juga dari potensi spiritual dan emosionalnya

           





DAFTAR PUSTAKA

Luluk Yunan Ruhendi. 2004. Paradikma Pendidikan Universal. Yogyakarta: IRCISoD

Anonim. 2009. “Pendekatan Pembelajaran Holistik” diakses pada hari Senin, 28 November  2011 di http://anonim.blogspot.com/2009/Pendekatan-Pembelajaran -Holistik
Akhmad Sudrajat. 2008. “Tentang Pendekatan Holistik” diakses pada hari Senin, 28 November  2011 di http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/26/pendidikan-holistik/
Djauharah Bawazir. 2008. “Pendekatan Holistik Dalam Pendidikan Anak” diakses pada hari Senin, 28 November  2011 di http://bunyan.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=284&Itemid=97
Pusat penelitian dan pelayanan pendidikan Universitas Sanata Darma. 2009. “Pembelajaran Holistik” diakses pada hari Senin, 28 November  2011 di http://p4-usd.blogspot.com/2009/05/pembelajaran-holistik.html

Sawang. 2011. “Pendekatan Holistik Dalam Pendidikan Anak” diakses pada hari Senin, 28 November  2011 di http://susatyoyuwono.blogdetik.com/2011/02/17/ pendekatan-holistik-dalam-pendidikan-anak/

Young, Schoot H. 2005. “Belajar Holistik” diakses pada hari Senin, 28 November  2011 di www.jwelford.demon.co.uk/ brainwaremap/holist.html

1 komentar:

  1. pembelajran holistik, sudah saatnya di Indonesia menerapkan pembelajarn hlistik. sehingga tercipta suasana belajar yang menyenangkan, tidak kering, tidak kaku.... mengingat anak memiliki pribadi dan latar belakang yang berbeda. Keberhasilan anak tidak hanya ditentukan oleh keunggulan secara kognitif, melainkan afektif dan psikomotorik.Perkembangan anak ditentukan oleh pengalamannya,. Anak selain diperlakukan sebagai makhluk individu dia juga sebagai mahluk sosial,. Pembelajaran Holistik, membuat anak "bergairah" dalam belajar, mereka akan merasa "sayang" kalau meninggalkan pelajaran. Tentunya dibutuhkan kesiapan bagi tenaga pendidik, siap secara akademis maupun mentalnya, begitu juga dengan unsur penunjang lainnya.

    BalasHapus